aMrazing |
You think you know me? Yeah, i think i know me too. Fact is, i'm still trying to figure it out. Who am i? What the hell am i doing in this world? One thing i know for sure, to live is to experience. Life, is a journey. It might be long, it might be short. But i'm sure as hell i'm gonna enjoy every second of it. |
Terlalu lama tumblr ini terbengkalai. Mungkin kalau blog ini adalah sebentuk kamar, dia sudah menjerit kesepian, protes karena ditinggalkan. Pastilah, ‘kamar’ digital ini sekarang sudah kusam tak terawat. Dipenuhi debu, sarang labah-labah yang menumpuk di sudut kamar, lantai yang akan mengepul kalau diinjak, cat dinding yang mulai mengelupas dan retak, serta menguarkan bau apek karena udara yang itu-itu saja, tak pernah berganti.
Jadi, sekarang saya akan berusaha lebih rajin mengepel, menyapu, membersihkan pojok atas sudut kamar dari sarang labah-labah, kembali mengecat dinding dengan warna ceria, dan tentunya, rajin membuka jendela supaya oksigen dan cahaya bisa kembali menyegarkan ruangan. Saya akan kembali menulis di sini. Tempat yang seharusnya dirawat sepenuh hati.
Di Twitter, kita dibatasi 140 karakter untuk berekspresi. Lama kelamaan, kemampuan menulis tulisan yang panjang menumpul. Kita ‘dibiasakan’ dan ‘dipaksa’ untuk memadatkan kalimat tanpa kehilangan arti. Tentu saja, hal ini sangat berguna untuk menyampaikan maksud secara langsung. Tapi, untuk menulis novel misalnya, kemampuan mengolah kata-kata dan memainkan kalimat sangat dibutuhkan. Bahkan untuk menulis entry blog ini saja, saya sudah tertatih. Letih.
Saya ingat saat-saat sebelum ada Twitter. Menulis di blog sangat menyenangkan. Bahkan, saking riuhnya bebunyian di otak yang menuntut untuk ditransformasikan ke dalam bentuk tulisan, setiap minggu pasti ada saja hasil celotehan saya. Tak peduli bagus atau tidak, tak peduli bermakna atau tidak, tak peduli penting atau tidak, yang penting saya menulis. Sebebas-bebasnya. Sepanjang-panjangnya. Sesuka-suka saya.
Sekarang, sampah otak saya lebih banyak beredar di Twitter. Masif, berisik, bawel, dan tentu saja, nggak penting. Namanya juga sampah. Tapi, yang namanya rindu sudah seharusnya disalurkan, bukan? Rindu bunyi tuts keyboard tanpa henti menerjemahkan perintah otak tanpa tersekat ruang 140 karakter. Rindu menulis sepanjang yang saya bisa tanpa khawatir ada yang mau membacanya atau tidak. Singkatnya, saya sangat rindu ngeblog.
So here I am. Smiling while typing these nonsense.
Welcome back, Me. Yay!